السلام عليكم و رحمة الله و بركاته

Marhaban bihudhurikum, selamat datang di web Komunitas Pencinta Al-Quran (KOMPAQ)

الشعار

Bumikan Al-Quran niscaya Allah akan melangitkan hidup anda

الحكمة

Tiada kata yang lebih indah dari Al-Quran

الموعظة

Mari jadikan Al-Quran sebagai petunjuk hidup

الخاتمة

Terima kasih atas kunjungan anda, salam ukhuwah dari kami.

Rabu, 10 Mei 2017

Sebuah Keluarga di Sebuah Panti

Pada 20 Maret 2011 kami KOMPAQ (Komunitas Pecinta Al Quran) memiliki kesempatan melaksanakan program santunan di salah satu panti binaan pembimbing kami, Ir. Sonny Sumarsono. Nama pantinya Panti Yayasan Pengembangan Masyarakat Sejahtera, Tambun - Bekasi.
Alhamdulillah kami bisa bermain-main di lapangan, mencari jejak menyusuri pos-pos yang di tiap posnya ada kisah-kisah seru. Kami namakan game ini Story Telling Qurani. Adik-adik akan mendapatkan kisah al-Quran di setiap pos. Untuk mendapatkan kisah yang baru mereka harus mengulas kembali kisah yang didapat di pos sebelumnya. Jadi dalam satu permainan adik-adik mendapat 4 kisah al-Quran dengan cara menjelajah dan menyenangkan! Ada yang posnya di kuburan, di samping kali, di warung, dll.

Kami senaaaang banget bisa menghibur mereka. Karena menurut pengasuh panti, Pak Nugroho, mereka tidak pernah diizinkan ke luar dari panti. Jarang sekali bermain-main ceria bersama.
Sedihnya, sebagian adik-adik di sini sengaja dikirim orangtuanya ke panti karena mereka tak sanggup lagi membesarkan dan membiayai anaknya :(

Tahukah, sebagian besar dari mereka berasal dari pulau seberang LAMPUNG! Ada yang memang tidak memiliki orangtua. Ada yang tidak ingin lagi diakui oleh orangtuanya sendiri. Ya Rabb, kami benar-benar ditohok agar banyak bersyukur. Satu hal lagi yang membuat kami haru. Mereka telah menjadi sebuah keluarga.

Ketika ada seorang adik kecil umur 3 tahunan menangis, dengan sigap seorang kakak menggendongnya. Ternyata masing-masing mereka telah dipersaudarakan memiliki adik dan kakak. Saling menjaga. Saling mengasihi.
Kami pun dibuat terenyuh, ketika seorang adik berkata, "Kak, nanti kita kotor-kotoran ya?"
"Ngga juga, Dik. Emang kenapa, Sayang?"
"Takut bajuku kotor, Kak. Kan capek nyucinya."
Deg. Adik itu baru berumur 5 tahunan. "Kamu nyuci baju sendiri?"
"Iya..."

Mereka amat mandiri. Mencuci, mengepel kamar, mencuci tumpukan piring-piring kotor, membersihkan masjid, kantor pengurus, dll. Untuk seumuran 5-12 tahun, bukankah itu amazing?
Keadaan panti pun tidak terlalu mapan. Ada adegan sediiiih. Ketika kami makan bersama setelah seru main di luar. Menu makan siangnya adalah ayam crispy. Bagi sebagian kita tentu menu itu sangat sederhana. Tapi tidak bagi mereka. Bertemu dengan ayam sebulan sekali pun tidak. Jangan jauh-jauh.. mereka pun sering kehabisan air minum! 

Kami sedih, belum bisa berbagi kebahagiaan setiap hari dengan mereka. Oleh karenanya kami pun mendirikan perpustakaan kecil. Semoga dengan itu adik-adik bisa tiap hari baca, terhibur dan bertambah wawasannya melalui membaca.  Kami juga menyalurkan santunan mukena, baju koko, kerudung dan beberapa baju layak pakai. Terima kasih kepada para donatur. Jazakumullah ahsanal jazaa.

Ohya, Teman. Panti ini juga sangat terbuka bagi yang mau ngajar; ngaji, bahasa inggris, matematika, dll. Untuk SD/SMP. Karena mereka belajarnya di dalam panti, jadi tidak di sekolah pada umumnya. Berminat mengajar? Insya Allah ada fee-nya :).
Untuk Anda yang ingin berdonasi harta atau buku, hubungi kami di nomor yang tertera di web ini. Mari berbagi, berbahagia, dan bermanfaat!

###

Nati Sajidah, 
Sekretaris Umum KOMPAQ

Belajar Menikmati Hujan dari Adik-adik Tanah Abang

Mungkinkah ‘doktrin’ hujan membawa kebaikan hanya untuk segelintir orang? Pada ayat berikut ini saya mendapatkan jawabannya:

ٱللَّهُ ٱلَّذِى يُرۡسِلُ ٱلرِّيَـٰحَ فَتُثِيرُ سَحَابً۬ا فَيَبۡسُطُهُ ۥ فِى ٱلسَّمَآءِ كَيۡفَ يَشَآءُ وَيَجۡعَلُهُ ۥ كِسَفً۬ا فَتَرَى ٱلۡوَدۡقَ يَخۡرُجُ مِنۡ خِلَـٰلِهِۦ‌ۖ فَإِذَآ أَصَابَ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۤ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ
Allah-lah yang mengirimkan angin,
Lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkan awan
Dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki
Dan menjadikannya bergumpa-gumpal,
Lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya,
Maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hambaNya yang Dia kehendaki
Tiba-tiba mereka bergembira
(Surat Ar Rum : 48)

Lihat, Tuhan menghendaki agar tidak semua makhlukNya merasa bergembira dengan hujan yang diturunkan. Ada yang Dia kehendaki untuk berbahzagia ada pula yang mengutuki mengapa harus terus menerus hujan. Pertanyaannya, apakah kebahagiaan akan turunnya hujan ini dapat kita upayakan walaupun kondisi benar-benar mendukung untuk mengumpat dan menyalahkan hujan; pakaian tidak kering-kering, aktivitas menjadi sangat terbatas, penyakit mewabah karena ketidakjelasan musim, dll.

Dapatkah kita menjadi hamba-Nya yang dikehendaki untuk berbahagia menyambut hujan?
Pada bagian "hamba-hambaNya" Allah menggunakan kata 'ibad. Dalam sebuah kajian tafsir Ustadz Abdul 'Aziz Abdur Rauf pernah mengatakan, bahwa tidaklah Allah memakai kata 'ibad dalam Al Quran melainkan dia memiliki sifat-sifat agung. Tidak sembarang hamba Allah. Tidak sembarang manusia. Inilah poinnya. Jika ingin bahagia yang tak dibatasi turunnya hujan jadilah 'ibad-Nya!

source: google

Episode di bawah ini sebagai bukti nyata, bahwa kegembiraan memaknai hujan hanya Allah berikan kepada hambaNya yang dikehendaki.
Mereka tinggal di pinggir rel kereta api. Rumah mereka terbuat dari seng, kayu, adapun yang terbuat dari tembok jauh sekali dari kata layak huni. Saling berdempetan antara warung tegal dengan wc umum! Takjub juga melihat beberapa pemuda dengan santai menyantap baso di depan wc umum yang terbuka. Glek.

Saya bersama teman-teman KOMPAQ (Komunitas Pecinta Al Quran) ke sana saat sore hari, kira-kira pukul 15.00 an. Karena hujan lebat kami tidak langsung menuju lokasi TPA tempat adik-adik berkumpul. Di depan sebuah salon kami meneduh kedinginan. Tangan saya gemetar mengetik sms kepada guru TPA, berharap dari mereka ada yang dapat menjemput saya dan teman-teman dengan payung. Saat itu pilihan untuk hujan-hujanan masih menjadi pilihan terakhir. Tuhan, mengapa hujan terus? Bermanfaatkah derasnya hujan ini?
Sekitar satu jam saya dan Mila menunggu hujan reda. Saat itulah kami disuguhi keceriaan di bawah derasnya hujan. Dua gadis cilik dengan riangnya menikmati guyuran air dari tangki sebuah rumah. Tangki itu tidak sampai ke tanah, dia menggantung dan otomatis air hujan yang ditampungnya menjelma menjadi air terjun, muncrat sana sini. Kedua gadis itu –dengan tidak menanggalkan pakainnya- saling memandikan satu sama lain. Mereka berdua benar-benar mandi di bawah ‘shower’ dadakan. Bosan dengan tangki yang pertama, mereka berdua beralih ke tangki rumah sebelahnya. Saling memercikan air dan bernyanyi-nyanyi. Kemudian berlari saling mengejar hingga tidak terlihat lagi.

Hujan masih saja deras. Lama-lama kaki kami pegal juga berdiri dengan tangan penuh bingkisan yang akan dibagikan kepada adik-adik. Hampir sekujur tubuh basah semua. Hati saya sibuk menghibur diri sendiri agar tidak mengeluh dengan terus mengulang do’a saat turun hujan, Ya Allah jadikanlah hujan ini memberikan manfaat. Setiap kali berbisik do’a itu, setiap kali itu pula sudut lain hati saya bertanya; Apa manfaatnya dari hujan deras yang terus menerus turun ini?

Sms balasan diterima, dan sepertinya saya harus mencari posisi berdiri yang lebih nyaman. Tidak ada panitia yang dapat menjemput karena di sana mereka sedang mengkondisikan adik-adik. Ruang TPA yang luasnya tidak sampai 3x3m itu bocor. Hujan deras membobol seng yang menjadi atapnya.

Sambil melirik jam, hati saya kisruh. Sudah pukul 16.00 pasti adik-adik sudah menunggu lama. Sebagian teman kami masih belanja beberapa bingkisan yang belum lengkap di pasar Tanah Abang. Mereka terjebak macet luar biasa karena hujan deras. Tuhan, masihkah hujan ini bermanfaat?

Kaki-kaki kecil kedua gadis itu kembali terdengar  berlarian di gemericik air. Kali ini mereka mendorong sebuah gerobak kayu yang di atasnya duduk seorang anak laki-laki. Dan... masya Allah.. bocah kecil berusia kira-kira 3 tahunan itu duduk di atas gerobak dengan tubuh telanjang di bawah guyuran hujan. Senyum riangnya biru, bergetar kedinginan. Kedua gadis kecil itu mendorongnya berkeliling di depan rumah-rumah yang berjejer. Sesekali si gadis iseng mendorong gerobak menembus semburan air yang memancur dari tangki. Brrrrr... tubuh bocah telanjang itu gemetar. Rasanya saya dapat merasakan gemeletuk giginya. Temanku Mila sama terpakunya dengan saya. Beda dengan mereka bertiga yang tertawa riang sambil terus berpesta dengan hujan.

Keceriaan ini,
Kebahagiaan ini,
Tawa riangnya yang tercipta dari butiran air langit ini,
Inikah yang didengungkan dalam baris do'a menyambut hujan,
"ya Allah jadikan hujan ini membawa manfaat,"
Inikah manfaat yang Kau titipkan pada hujan?
Kebahagiaan yang tak terkungkung oleh derasnya hujan ...

Di bawah langitNya yang sama Allah pertunjukkan kebenaran ayatNya. Kebahagiaan menyambut hujan hanyalah milik hamba pilihanNya. Maukah kita memiliki kebahagiaan yang tak bermusim ini? Milikilah sifat-sifat agung. Kabar baiknya; bahwa ternyata kita dapat mengusahakannya!

---
Nati Sajidah
Sekum KOMPAQ


Bandung, 16 September 2010, pk. 00.19 WIB

Selasa, 09 Mei 2017

Menjadi Wanita Malam

Saat mendengar tuturan kisah ini dari salah satu guru Sebar Guru Al-Quran / SERUAN KOMPAQ*, saya berkali-kali istighfar dalam hati sambil lirih mengucap, “Ini nyata. Ini bukan sinetron!”

Gadis itu masih berumur 15 tahun saat denyut kehidupan terasa begitu berdarah bagi bocah seumurnya. Ibunya mati, mungkin lebih tepatnya dibunuh oleh Ayah Tirinya. Seperti sama sekali tidak ada cinta yang melandasi pernikahan tersebut. Sang Ibu sakit-sakitan entah sakit apa, ditambah lagi dengan perlakuan keras si suami. Memaksanya memakan kotoran sapi. Disumpal hingga kotoran itu masuk ke dalam perut. Sampai ajal menjemput sang ibu, penderitaan gadis 15 tahun itu belum berakhir. Giliran dia yang menjadi objek kekejian sikap lelaki itu. Disuruhnya dia menjual harga diri di warung remang-remang. Ketika pagi tiba, lelaki brengsek itu menagih hasil kerjanya semalaman. Siapa yang tahan? Menyaksikan ibunya sendiri disiksa. Lalu disuruh menjual kehormatannya. Tiap malam melakukan hal yang tak pernah siapapun inginkan. Tiap malam menangisi kehidupan yang begitu bejat para perilakunya. Siapa yang mau? Siapa yang bercita-cita melakukan pekerjaan ini? Gadis itu pun tak.

Keadaan sudah terlampau kelewat batas. Kabur menjadi pilihannya. Kabur dari perilaku ayahnya yang bangsat. Tapi tidak kabur dari pekerjaan malam. Terlanjur basah bekerja. Sebagai pelarian dia tak tahu lagi harus bekerja apa. Akhirnya dia memilih, menjadi pemuas nafsu para lelaki. Hingga satu malam, dia tertangkap razia lalu dibawa ke Panti Sosial Karya Wanita (PSKW). Sebuah panti tempat merehabilitasi mereka yang tertangkap di warung remang-remang. Di sini pula dia bertemu dengan guru SERUAN. Menceritakan kelamnya masa lalu. Sesaknya hidup yang harus menghinakan diri. Sekali lagi, dia tak mau. Dia tak pernah menginginkannya. Ketika pun dia akhirnya memilih, itu karena terdesak. Karena tak tahu lagi apa yang bisa ia lakukan untuk menyambung hidup.

Sekarang dia dan teman-temannya yang lain akan tinggal di panti tersebut. Selama 6 bulan mereka disibukkan oleh berbagai kegiatan rehabilitasi; psikologi, pemeriksaan kesehatan, pembinaan rohani, pelatihan keterampilan hidup, olahraga, dll.
Lalu, setelah 6 bulan itu apa? Mereka dibebaskan, tanpa pengontrolan yang intensif. Tidak sedikit yang kembali ke pekerjaannya yang dulu, di remang-remang warung. Ada yang kembali kepada keluarganya. Ada pula yang dijemput sukacita oleh Mommy-nya, untuk kembali bekerja.

Bukankah ini miris? Sungguh kami menginginkan merangkul mereka secara berkelanjutan. Membina dan mengajak mereka memilih kehidupan yang lebih bersih dan nyaman. Mengajak mereka mendalami agama. Membangun puing-puing kehidupan yang lebih kokoh. Kami inginkan itu. Tapi kami baru mampu sebatas begini. Menyalurkan para guru al-Quran, yang kesungguhan dan ketulusannya – masya Allah – hanya Dia yang dapat membalas. Usaha sejengkal kami ini pun masih banyak kekurangannya. Masih terbatas dengan ba-bi-bu hambatan. Masih jauuuuuh dari yang dinamakan pembinaan. Tapi kami mencoba untuk memulai peduli. Dengan segala keterbatasan, kami tetap bertekad agar usaha ini terus berkembang. Terus diperbaiki. Terus dan terus lebih baik.

Mimpi kami tetap sama, ingin membumikan al-Quran. Agar Allah melangitkan kehidupan kami.  

###
Nati Sajidah, Sekum Komunitas Pecinta Al-Quran (KOMPAQ)
Jakarta, 6 Juni 2011

Ket.
SERUAN : Sebar Guru Al-Quran adalah salah satu program KOMPAQ yaitu menyebarkan guru al-Quran ke wilayah marginal. PSKW atau panti yang diceritakan di atas adalah salah satu wilayah pengajaran program SERUAN. 
Update 2017: Sejak tahun 2012 KOMPAQ tidak lagi mengirim guru ke PSKW. Guru-guru yang masih aktif mengajar adalah di kawasan Tanah Abang, untuk adik-adik yang tinggal di sekitaran rel kereta api. Sampai saat ini KOMPAQ menyalurkan titipan para donatur untuk kesejahteraan para guru yang ikhlas ini.

Mu'min yang Utrujjah yang Bagaimanakah?

عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ المُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الأُتْرُجَّةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ المُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ، لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الحَنْظَلَةِ، لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ (متفق عليه)

Dari Abu Musa Al Asy’ari ra, ia berkata (bahwa) Rasulullah ﷺ  bersabda:
Perumpamaan orang mu’min yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah Utrujah, baunya wangi dan rasa buahnya enak. Dan perumpamaan orang mu’min yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah Kurma, tidak berbau namun rasanya enak. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an, bagaikan buah Raihanah, baunya enak namun rasanya pahit. Dan perumpaman orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an, bagaikan buah Hanzalah, tidak berbau dan rasanya pahit. (Muttafaqun ‘alaih) HR. Imam Bukhori No.5427 dan Imam Muslim No.797.

Utrujjah atau Utrunjah adalah buah elit di kalangan masyarakat Arab dan sekitarnya. Harganya pun cukup mahal, senilai 3 dirham. Bahkan di salah satu pembahasan fiqih, buah Utrujjah dijadikan sebagai patokan nishob hukum potong tangan. Artinya, ketika seseorang mencuri buah Utrujjah maka ia akan dikenakan hukuman potong tangan.

Apa sebenarnya yang membuat buah ini begitu berharga?
  1. Harum baunya
  2. Indah warna dan bentuk
  3. Manis rasanya
  4. Daging buahnya bertekstur lembut

Siapapun yang memakan buah Utrujjah, maka keempat panca indera; indera penglihatan, indera perasa, indera peraba, dan indera pengecapakan merasakan nikmat luar biasa. Jika saja buah tersebut mampu bicara, barangkali suaranya pun merdu ditangkap indera pendengar.

Begitulah gambaran seorang mukmin yang gemar membaca Al Qur’an. Suara bacaan Al Qur’an seorang mu’min akan dinikmati para pendengarnya, laksanasemerbak harum Utrujjah yang memikat.
Memandang mu’min tersebut pun begitu membahagiakan. Seolah kejernihan hati dan iman yang ada dalam hatinya terpancar dan terlihat jelas di wajahnya. Melihat wajah teduhnya menimbulkan kerinduan untuk segera berinteraksi dan berada di dekatnya, sebagaimana kerinduan seseorang untuk memegang dan mencicipi kelezatan buah Utrujjah setelah melihatnya.
Keindahan yang terbias dari seorang mu’min yang gemar membaca Al Qur’an membuat siapapun yang ada di dekatnya seolah sedang menikmati manisnya buah Utrujjah melalui perangai dan tutur katanya.
Tatapannya teduh, hatinya lembut ibarat tekstur buah Utrujjah, sehingga siapapun akan mudah berinteraksi dan senang berada di dekatnya. Sebagaimana buah ini tidak mengecewakan penikmatnya, begitu pula dengan mu’min yang gemar membaca Al Qur’an. Ia tidak akan menyusahkan, mengecewakan atau melukai perasaan saudaranya.

Namun, mengapa kini banyak kita jumpai ‘Utrujjah’ yang hanya harum baunya, tetapi bentuk dan warnanya tidak menarik? Rasanya pun tidak manis bahkan pahit dan tekstur dagingnya keras. Mengapa bisa demikian?
Barangkali, ‘Utrujjah’ yang kita jumpai saat ini dipetik dari pohon sebelum masanya, sebelum ia benar-benar matang.

Ya, barangkali seorang mu’min yang membaca Al Qur’an saat ini banyak yang dipetik dari pohon sebelum masak dan ranum imannya. Maka, ia hanya merdu bacaannya, namun tidak disertai kemuliaan akhlak.
“Utrujjah” yang harum dan manis rasanya dimanakah engkau berada?. Mu’min yang melantunkan Al Qur’an dengan merdu dan berakhlak mulia dimanakah engkau berada?




---
Al Faqir ilaa ‘afwi robbih:
Muhammad Abduh Al Baihaqi

Program Terdekat

Program Terdekat

 
Blogger Widgets