Saat
mendengar tuturan kisah ini dari salah satu guru Sebar Guru Al-Quran / SERUAN KOMPAQ*, saya
berkali-kali istighfar dalam hati sambil lirih mengucap, “Ini nyata. Ini bukan
sinetron!”
Gadis itu
masih berumur 15 tahun saat denyut kehidupan terasa begitu berdarah bagi bocah
seumurnya. Ibunya mati, mungkin lebih tepatnya dibunuh oleh Ayah Tirinya.
Seperti sama sekali tidak ada cinta yang melandasi pernikahan tersebut. Sang
Ibu sakit-sakitan entah sakit apa, ditambah lagi dengan perlakuan keras si suami.
Memaksanya memakan kotoran sapi. Disumpal hingga kotoran itu masuk ke dalam
perut. Sampai ajal menjemput sang ibu, penderitaan gadis 15 tahun itu belum
berakhir. Giliran dia yang menjadi objek kekejian sikap lelaki itu. Disuruhnya
dia menjual harga diri di warung remang-remang. Ketika pagi tiba, lelaki
brengsek itu menagih hasil kerjanya semalaman. Siapa yang tahan? Menyaksikan
ibunya sendiri disiksa. Lalu disuruh menjual kehormatannya. Tiap malam
melakukan hal yang tak pernah siapapun inginkan. Tiap malam menangisi kehidupan
yang begitu bejat para perilakunya. Siapa yang mau? Siapa yang bercita-cita
melakukan pekerjaan ini? Gadis itu pun tak.
Keadaan
sudah terlampau kelewat batas. Kabur menjadi pilihannya. Kabur dari perilaku
ayahnya yang bangsat. Tapi tidak kabur dari pekerjaan malam. Terlanjur basah
bekerja. Sebagai pelarian dia tak tahu lagi harus bekerja apa. Akhirnya dia
memilih, menjadi pemuas nafsu para lelaki. Hingga satu malam, dia tertangkap
razia lalu dibawa ke Panti Sosial Karya Wanita (PSKW). Sebuah panti tempat
merehabilitasi mereka yang tertangkap di warung remang-remang. Di sini pula dia
bertemu dengan guru SERUAN. Menceritakan kelamnya masa lalu. Sesaknya hidup
yang harus menghinakan diri. Sekali lagi, dia tak mau. Dia tak pernah menginginkannya.
Ketika pun dia akhirnya memilih, itu karena terdesak. Karena tak tahu lagi apa
yang bisa ia lakukan untuk menyambung hidup.
Sekarang
dia dan teman-temannya yang lain akan tinggal di panti tersebut. Selama 6 bulan
mereka disibukkan oleh berbagai kegiatan rehabilitasi; psikologi, pemeriksaan
kesehatan, pembinaan rohani, pelatihan keterampilan hidup, olahraga, dll.
Lalu,
setelah 6 bulan itu apa? Mereka dibebaskan, tanpa pengontrolan yang intensif.
Tidak sedikit yang kembali ke pekerjaannya yang dulu, di remang-remang warung.
Ada yang kembali kepada keluarganya. Ada pula yang dijemput sukacita oleh Mommy-nya,
untuk kembali bekerja.
Bukankah
ini miris? Sungguh kami menginginkan merangkul mereka secara berkelanjutan.
Membina dan mengajak mereka memilih kehidupan yang lebih bersih dan nyaman.
Mengajak mereka mendalami agama. Membangun puing-puing kehidupan yang lebih
kokoh. Kami inginkan itu. Tapi kami baru mampu sebatas begini. Menyalurkan para
guru al-Quran, yang kesungguhan dan ketulusannya – masya Allah – hanya Dia yang
dapat membalas. Usaha sejengkal kami ini pun masih banyak kekurangannya. Masih
terbatas dengan ba-bi-bu hambatan. Masih jauuuuuh dari yang dinamakan
pembinaan. Tapi kami mencoba untuk memulai peduli. Dengan segala keterbatasan,
kami tetap bertekad agar usaha ini terus berkembang. Terus diperbaiki. Terus
dan terus lebih baik.
Mimpi kami
tetap sama, ingin membumikan al-Quran. Agar Allah melangitkan kehidupan kami.
###
Nati
Sajidah, Sekum Komunitas Pecinta Al-Quran (KOMPAQ)
Jakarta, 6
Juni 2011
Ket.
SERUAN :
Sebar Guru Al-Quran adalah salah satu program KOMPAQ yaitu menyebarkan guru al-Quran
ke wilayah marginal. PSKW atau panti yang diceritakan di atas adalah salah satu
wilayah pengajaran program SERUAN.
Update 2017: Sejak tahun 2012 KOMPAQ tidak lagi mengirim guru ke PSKW. Guru-guru yang masih aktif mengajar adalah di kawasan Tanah Abang, untuk adik-adik yang tinggal di sekitaran rel kereta api. Sampai saat ini KOMPAQ menyalurkan titipan para donatur untuk kesejahteraan para guru yang ikhlas ini.






0 komentar:
Posting Komentar