Selasa, 09 Mei 2017

Menjadi Wanita Malam

Saat mendengar tuturan kisah ini dari salah satu guru Sebar Guru Al-Quran / SERUAN KOMPAQ*, saya berkali-kali istighfar dalam hati sambil lirih mengucap, “Ini nyata. Ini bukan sinetron!”

Gadis itu masih berumur 15 tahun saat denyut kehidupan terasa begitu berdarah bagi bocah seumurnya. Ibunya mati, mungkin lebih tepatnya dibunuh oleh Ayah Tirinya. Seperti sama sekali tidak ada cinta yang melandasi pernikahan tersebut. Sang Ibu sakit-sakitan entah sakit apa, ditambah lagi dengan perlakuan keras si suami. Memaksanya memakan kotoran sapi. Disumpal hingga kotoran itu masuk ke dalam perut. Sampai ajal menjemput sang ibu, penderitaan gadis 15 tahun itu belum berakhir. Giliran dia yang menjadi objek kekejian sikap lelaki itu. Disuruhnya dia menjual harga diri di warung remang-remang. Ketika pagi tiba, lelaki brengsek itu menagih hasil kerjanya semalaman. Siapa yang tahan? Menyaksikan ibunya sendiri disiksa. Lalu disuruh menjual kehormatannya. Tiap malam melakukan hal yang tak pernah siapapun inginkan. Tiap malam menangisi kehidupan yang begitu bejat para perilakunya. Siapa yang mau? Siapa yang bercita-cita melakukan pekerjaan ini? Gadis itu pun tak.

Keadaan sudah terlampau kelewat batas. Kabur menjadi pilihannya. Kabur dari perilaku ayahnya yang bangsat. Tapi tidak kabur dari pekerjaan malam. Terlanjur basah bekerja. Sebagai pelarian dia tak tahu lagi harus bekerja apa. Akhirnya dia memilih, menjadi pemuas nafsu para lelaki. Hingga satu malam, dia tertangkap razia lalu dibawa ke Panti Sosial Karya Wanita (PSKW). Sebuah panti tempat merehabilitasi mereka yang tertangkap di warung remang-remang. Di sini pula dia bertemu dengan guru SERUAN. Menceritakan kelamnya masa lalu. Sesaknya hidup yang harus menghinakan diri. Sekali lagi, dia tak mau. Dia tak pernah menginginkannya. Ketika pun dia akhirnya memilih, itu karena terdesak. Karena tak tahu lagi apa yang bisa ia lakukan untuk menyambung hidup.

Sekarang dia dan teman-temannya yang lain akan tinggal di panti tersebut. Selama 6 bulan mereka disibukkan oleh berbagai kegiatan rehabilitasi; psikologi, pemeriksaan kesehatan, pembinaan rohani, pelatihan keterampilan hidup, olahraga, dll.
Lalu, setelah 6 bulan itu apa? Mereka dibebaskan, tanpa pengontrolan yang intensif. Tidak sedikit yang kembali ke pekerjaannya yang dulu, di remang-remang warung. Ada yang kembali kepada keluarganya. Ada pula yang dijemput sukacita oleh Mommy-nya, untuk kembali bekerja.

Bukankah ini miris? Sungguh kami menginginkan merangkul mereka secara berkelanjutan. Membina dan mengajak mereka memilih kehidupan yang lebih bersih dan nyaman. Mengajak mereka mendalami agama. Membangun puing-puing kehidupan yang lebih kokoh. Kami inginkan itu. Tapi kami baru mampu sebatas begini. Menyalurkan para guru al-Quran, yang kesungguhan dan ketulusannya – masya Allah – hanya Dia yang dapat membalas. Usaha sejengkal kami ini pun masih banyak kekurangannya. Masih terbatas dengan ba-bi-bu hambatan. Masih jauuuuuh dari yang dinamakan pembinaan. Tapi kami mencoba untuk memulai peduli. Dengan segala keterbatasan, kami tetap bertekad agar usaha ini terus berkembang. Terus diperbaiki. Terus dan terus lebih baik.

Mimpi kami tetap sama, ingin membumikan al-Quran. Agar Allah melangitkan kehidupan kami.  

###
Nati Sajidah, Sekum Komunitas Pecinta Al-Quran (KOMPAQ)
Jakarta, 6 Juni 2011

Ket.
SERUAN : Sebar Guru Al-Quran adalah salah satu program KOMPAQ yaitu menyebarkan guru al-Quran ke wilayah marginal. PSKW atau panti yang diceritakan di atas adalah salah satu wilayah pengajaran program SERUAN. 
Update 2017: Sejak tahun 2012 KOMPAQ tidak lagi mengirim guru ke PSKW. Guru-guru yang masih aktif mengajar adalah di kawasan Tanah Abang, untuk adik-adik yang tinggal di sekitaran rel kereta api. Sampai saat ini KOMPAQ menyalurkan titipan para donatur untuk kesejahteraan para guru yang ikhlas ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Program Terdekat

Program Terdekat

 
Blogger Widgets