Selasa, 09 Mei 2017

Mu'min yang Utrujjah yang Bagaimanakah?

عَنْ أَبِي مُوسَى الأَشْعَرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ المُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الأُتْرُجَّةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ، وَمَثَلُ المُؤْمِنِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ، لاَ رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ القُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ، رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ، وَمَثَلُ المُنَافِقِ الَّذِي لاَ يَقْرَأُ القُرْآنَ كَمَثَلِ الحَنْظَلَةِ، لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ (متفق عليه)

Dari Abu Musa Al Asy’ari ra, ia berkata (bahwa) Rasulullah ﷺ  bersabda:
Perumpamaan orang mu’min yang membaca Al-Qur’an bagaikan buah Utrujah, baunya wangi dan rasa buahnya enak. Dan perumpamaan orang mu’min yang tidak membaca Al-Qur’an bagaikan buah Kurma, tidak berbau namun rasanya enak. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur’an, bagaikan buah Raihanah, baunya enak namun rasanya pahit. Dan perumpaman orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an, bagaikan buah Hanzalah, tidak berbau dan rasanya pahit. (Muttafaqun ‘alaih) HR. Imam Bukhori No.5427 dan Imam Muslim No.797.

Utrujjah atau Utrunjah adalah buah elit di kalangan masyarakat Arab dan sekitarnya. Harganya pun cukup mahal, senilai 3 dirham. Bahkan di salah satu pembahasan fiqih, buah Utrujjah dijadikan sebagai patokan nishob hukum potong tangan. Artinya, ketika seseorang mencuri buah Utrujjah maka ia akan dikenakan hukuman potong tangan.

Apa sebenarnya yang membuat buah ini begitu berharga?
  1. Harum baunya
  2. Indah warna dan bentuk
  3. Manis rasanya
  4. Daging buahnya bertekstur lembut

Siapapun yang memakan buah Utrujjah, maka keempat panca indera; indera penglihatan, indera perasa, indera peraba, dan indera pengecapakan merasakan nikmat luar biasa. Jika saja buah tersebut mampu bicara, barangkali suaranya pun merdu ditangkap indera pendengar.

Begitulah gambaran seorang mukmin yang gemar membaca Al Qur’an. Suara bacaan Al Qur’an seorang mu’min akan dinikmati para pendengarnya, laksanasemerbak harum Utrujjah yang memikat.
Memandang mu’min tersebut pun begitu membahagiakan. Seolah kejernihan hati dan iman yang ada dalam hatinya terpancar dan terlihat jelas di wajahnya. Melihat wajah teduhnya menimbulkan kerinduan untuk segera berinteraksi dan berada di dekatnya, sebagaimana kerinduan seseorang untuk memegang dan mencicipi kelezatan buah Utrujjah setelah melihatnya.
Keindahan yang terbias dari seorang mu’min yang gemar membaca Al Qur’an membuat siapapun yang ada di dekatnya seolah sedang menikmati manisnya buah Utrujjah melalui perangai dan tutur katanya.
Tatapannya teduh, hatinya lembut ibarat tekstur buah Utrujjah, sehingga siapapun akan mudah berinteraksi dan senang berada di dekatnya. Sebagaimana buah ini tidak mengecewakan penikmatnya, begitu pula dengan mu’min yang gemar membaca Al Qur’an. Ia tidak akan menyusahkan, mengecewakan atau melukai perasaan saudaranya.

Namun, mengapa kini banyak kita jumpai ‘Utrujjah’ yang hanya harum baunya, tetapi bentuk dan warnanya tidak menarik? Rasanya pun tidak manis bahkan pahit dan tekstur dagingnya keras. Mengapa bisa demikian?
Barangkali, ‘Utrujjah’ yang kita jumpai saat ini dipetik dari pohon sebelum masanya, sebelum ia benar-benar matang.

Ya, barangkali seorang mu’min yang membaca Al Qur’an saat ini banyak yang dipetik dari pohon sebelum masak dan ranum imannya. Maka, ia hanya merdu bacaannya, namun tidak disertai kemuliaan akhlak.
“Utrujjah” yang harum dan manis rasanya dimanakah engkau berada?. Mu’min yang melantunkan Al Qur’an dengan merdu dan berakhlak mulia dimanakah engkau berada?




---
Al Faqir ilaa ‘afwi robbih:
Muhammad Abduh Al Baihaqi

0 komentar:

Posting Komentar

Program Terdekat

Program Terdekat

 
Blogger Widgets