Rabu, 10 Mei 2017

Belajar Menikmati Hujan dari Adik-adik Tanah Abang

Mungkinkah ‘doktrin’ hujan membawa kebaikan hanya untuk segelintir orang? Pada ayat berikut ini saya mendapatkan jawabannya:

ٱللَّهُ ٱلَّذِى يُرۡسِلُ ٱلرِّيَـٰحَ فَتُثِيرُ سَحَابً۬ا فَيَبۡسُطُهُ ۥ فِى ٱلسَّمَآءِ كَيۡفَ يَشَآءُ وَيَجۡعَلُهُ ۥ كِسَفً۬ا فَتَرَى ٱلۡوَدۡقَ يَخۡرُجُ مِنۡ خِلَـٰلِهِۦ‌ۖ فَإِذَآ أَصَابَ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۤ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ
Allah-lah yang mengirimkan angin,
Lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkan awan
Dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki
Dan menjadikannya bergumpa-gumpal,
Lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya,
Maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hambaNya yang Dia kehendaki
Tiba-tiba mereka bergembira
(Surat Ar Rum : 48)

Lihat, Tuhan menghendaki agar tidak semua makhlukNya merasa bergembira dengan hujan yang diturunkan. Ada yang Dia kehendaki untuk berbahzagia ada pula yang mengutuki mengapa harus terus menerus hujan. Pertanyaannya, apakah kebahagiaan akan turunnya hujan ini dapat kita upayakan walaupun kondisi benar-benar mendukung untuk mengumpat dan menyalahkan hujan; pakaian tidak kering-kering, aktivitas menjadi sangat terbatas, penyakit mewabah karena ketidakjelasan musim, dll.

Dapatkah kita menjadi hamba-Nya yang dikehendaki untuk berbahagia menyambut hujan?
Pada bagian "hamba-hambaNya" Allah menggunakan kata 'ibad. Dalam sebuah kajian tafsir Ustadz Abdul 'Aziz Abdur Rauf pernah mengatakan, bahwa tidaklah Allah memakai kata 'ibad dalam Al Quran melainkan dia memiliki sifat-sifat agung. Tidak sembarang hamba Allah. Tidak sembarang manusia. Inilah poinnya. Jika ingin bahagia yang tak dibatasi turunnya hujan jadilah 'ibad-Nya!

source: google

Episode di bawah ini sebagai bukti nyata, bahwa kegembiraan memaknai hujan hanya Allah berikan kepada hambaNya yang dikehendaki.
Mereka tinggal di pinggir rel kereta api. Rumah mereka terbuat dari seng, kayu, adapun yang terbuat dari tembok jauh sekali dari kata layak huni. Saling berdempetan antara warung tegal dengan wc umum! Takjub juga melihat beberapa pemuda dengan santai menyantap baso di depan wc umum yang terbuka. Glek.

Saya bersama teman-teman KOMPAQ (Komunitas Pecinta Al Quran) ke sana saat sore hari, kira-kira pukul 15.00 an. Karena hujan lebat kami tidak langsung menuju lokasi TPA tempat adik-adik berkumpul. Di depan sebuah salon kami meneduh kedinginan. Tangan saya gemetar mengetik sms kepada guru TPA, berharap dari mereka ada yang dapat menjemput saya dan teman-teman dengan payung. Saat itu pilihan untuk hujan-hujanan masih menjadi pilihan terakhir. Tuhan, mengapa hujan terus? Bermanfaatkah derasnya hujan ini?
Sekitar satu jam saya dan Mila menunggu hujan reda. Saat itulah kami disuguhi keceriaan di bawah derasnya hujan. Dua gadis cilik dengan riangnya menikmati guyuran air dari tangki sebuah rumah. Tangki itu tidak sampai ke tanah, dia menggantung dan otomatis air hujan yang ditampungnya menjelma menjadi air terjun, muncrat sana sini. Kedua gadis itu –dengan tidak menanggalkan pakainnya- saling memandikan satu sama lain. Mereka berdua benar-benar mandi di bawah ‘shower’ dadakan. Bosan dengan tangki yang pertama, mereka berdua beralih ke tangki rumah sebelahnya. Saling memercikan air dan bernyanyi-nyanyi. Kemudian berlari saling mengejar hingga tidak terlihat lagi.

Hujan masih saja deras. Lama-lama kaki kami pegal juga berdiri dengan tangan penuh bingkisan yang akan dibagikan kepada adik-adik. Hampir sekujur tubuh basah semua. Hati saya sibuk menghibur diri sendiri agar tidak mengeluh dengan terus mengulang do’a saat turun hujan, Ya Allah jadikanlah hujan ini memberikan manfaat. Setiap kali berbisik do’a itu, setiap kali itu pula sudut lain hati saya bertanya; Apa manfaatnya dari hujan deras yang terus menerus turun ini?

Sms balasan diterima, dan sepertinya saya harus mencari posisi berdiri yang lebih nyaman. Tidak ada panitia yang dapat menjemput karena di sana mereka sedang mengkondisikan adik-adik. Ruang TPA yang luasnya tidak sampai 3x3m itu bocor. Hujan deras membobol seng yang menjadi atapnya.

Sambil melirik jam, hati saya kisruh. Sudah pukul 16.00 pasti adik-adik sudah menunggu lama. Sebagian teman kami masih belanja beberapa bingkisan yang belum lengkap di pasar Tanah Abang. Mereka terjebak macet luar biasa karena hujan deras. Tuhan, masihkah hujan ini bermanfaat?

Kaki-kaki kecil kedua gadis itu kembali terdengar  berlarian di gemericik air. Kali ini mereka mendorong sebuah gerobak kayu yang di atasnya duduk seorang anak laki-laki. Dan... masya Allah.. bocah kecil berusia kira-kira 3 tahunan itu duduk di atas gerobak dengan tubuh telanjang di bawah guyuran hujan. Senyum riangnya biru, bergetar kedinginan. Kedua gadis kecil itu mendorongnya berkeliling di depan rumah-rumah yang berjejer. Sesekali si gadis iseng mendorong gerobak menembus semburan air yang memancur dari tangki. Brrrrr... tubuh bocah telanjang itu gemetar. Rasanya saya dapat merasakan gemeletuk giginya. Temanku Mila sama terpakunya dengan saya. Beda dengan mereka bertiga yang tertawa riang sambil terus berpesta dengan hujan.

Keceriaan ini,
Kebahagiaan ini,
Tawa riangnya yang tercipta dari butiran air langit ini,
Inikah yang didengungkan dalam baris do'a menyambut hujan,
"ya Allah jadikan hujan ini membawa manfaat,"
Inikah manfaat yang Kau titipkan pada hujan?
Kebahagiaan yang tak terkungkung oleh derasnya hujan ...

Di bawah langitNya yang sama Allah pertunjukkan kebenaran ayatNya. Kebahagiaan menyambut hujan hanyalah milik hamba pilihanNya. Maukah kita memiliki kebahagiaan yang tak bermusim ini? Milikilah sifat-sifat agung. Kabar baiknya; bahwa ternyata kita dapat mengusahakannya!

---
Nati Sajidah
Sekum KOMPAQ


Bandung, 16 September 2010, pk. 00.19 WIB

1 komentar:

  1. Masya Allah.. pengemasan cerita dengan tekhnik yang baik Dan membuat pembaca terhanyut kedalam cerita. Terima kasih atas pengulasan kata ibad, memberikan pengetahuan yang lebih mendalam akan tafsir ayat 48 surat Ar-rum kepada khalayak.

    BalasHapus

Program Terdekat

Program Terdekat

 
Blogger Widgets