Mungkinkah ‘doktrin’ hujan membawa kebaikan hanya untuk
segelintir orang? Pada ayat berikut ini saya mendapatkan jawabannya:
ٱللَّهُ ٱلَّذِى يُرۡسِلُ ٱلرِّيَـٰحَ
فَتُثِيرُ سَحَابً۬ا فَيَبۡسُطُهُ ۥ فِى ٱلسَّمَآءِ كَيۡفَ يَشَآءُ
وَيَجۡعَلُهُ ۥ كِسَفً۬ا فَتَرَى ٱلۡوَدۡقَ يَخۡرُجُ مِنۡ خِلَـٰلِهِۦۖ
فَإِذَآ أَصَابَ بِهِۦ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۤ إِذَا هُمۡ يَسۡتَبۡشِرُونَ
Allah-lah yang mengirimkan angin,
Lalu angin itu menggerakkan awan dan
Allah membentangkan awan
Dan Allah membentangkannya di
langit menurut yang Dia kehendaki
Dan menjadikannya
bergumpa-gumpal,
Lalu engkau lihat hujan keluar
dari celah-celahnya,
Maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hambaNya yang Dia kehendaki
Tiba-tiba mereka bergembira
(Surat Ar Rum : 48)
Lihat, Tuhan menghendaki agar tidak semua makhlukNya merasa
bergembira dengan hujan yang diturunkan. Ada yang Dia kehendaki untuk
berbahzagia ada pula yang mengutuki mengapa harus terus menerus hujan.
Pertanyaannya, apakah kebahagiaan akan turunnya hujan ini dapat kita upayakan
walaupun kondisi benar-benar mendukung untuk mengumpat dan menyalahkan hujan;
pakaian tidak kering-kering, aktivitas menjadi sangat terbatas, penyakit
mewabah karena ketidakjelasan musim, dll.
Dapatkah kita menjadi hamba-Nya yang dikehendaki untuk
berbahagia menyambut hujan?
Pada bagian "hamba-hambaNya" Allah menggunakan
kata 'ibad. Dalam sebuah kajian tafsir Ustadz Abdul 'Aziz Abdur Rauf pernah
mengatakan, bahwa tidaklah Allah memakai kata 'ibad dalam Al Quran melainkan
dia memiliki sifat-sifat agung. Tidak sembarang hamba Allah. Tidak sembarang
manusia. Inilah poinnya. Jika ingin bahagia yang tak dibatasi turunnya hujan
jadilah 'ibad-Nya!
![]() |
| source: google |
Episode di bawah ini sebagai bukti nyata, bahwa kegembiraan memaknai hujan hanya Allah berikan kepada hambaNya yang dikehendaki.
Mereka tinggal di pinggir rel kereta api. Rumah mereka
terbuat dari seng, kayu, adapun yang terbuat dari tembok jauh sekali dari kata
layak huni. Saling berdempetan antara warung tegal dengan wc umum! Takjub juga
melihat beberapa pemuda dengan santai menyantap baso di depan wc umum yang
terbuka. Glek.
Saya bersama teman-teman KOMPAQ (Komunitas Pecinta Al Quran)
ke sana saat sore hari, kira-kira pukul 15.00 an. Karena hujan lebat kami tidak
langsung menuju lokasi TPA tempat adik-adik berkumpul. Di depan sebuah salon
kami meneduh kedinginan. Tangan saya gemetar mengetik sms kepada guru TPA,
berharap dari mereka ada yang dapat menjemput saya dan teman-teman dengan
payung. Saat itu pilihan untuk hujan-hujanan masih menjadi pilihan terakhir.
Tuhan, mengapa hujan terus? Bermanfaatkah derasnya hujan ini?
Sekitar satu jam saya dan Mila menunggu hujan reda. Saat
itulah kami disuguhi keceriaan di bawah derasnya hujan. Dua gadis cilik dengan
riangnya menikmati guyuran air dari tangki sebuah rumah. Tangki itu tidak
sampai ke tanah, dia menggantung dan otomatis air hujan yang ditampungnya
menjelma menjadi air terjun, muncrat sana sini. Kedua gadis itu –dengan tidak
menanggalkan pakainnya- saling memandikan satu sama lain. Mereka berdua
benar-benar mandi di bawah ‘shower’ dadakan. Bosan dengan tangki yang pertama,
mereka berdua beralih ke tangki rumah sebelahnya. Saling memercikan air dan
bernyanyi-nyanyi. Kemudian berlari saling mengejar hingga tidak terlihat lagi.
Hujan masih saja deras. Lama-lama kaki kami pegal juga
berdiri dengan tangan penuh bingkisan yang akan dibagikan kepada adik-adik.
Hampir sekujur tubuh basah semua. Hati saya sibuk menghibur diri sendiri agar
tidak mengeluh dengan terus mengulang do’a saat turun hujan, Ya Allah
jadikanlah hujan ini memberikan manfaat. Setiap kali berbisik do’a itu, setiap
kali itu pula sudut lain hati saya bertanya; Apa manfaatnya dari hujan deras
yang terus menerus turun ini?
Sms balasan diterima, dan sepertinya saya harus mencari
posisi berdiri yang lebih nyaman. Tidak ada panitia yang dapat menjemput karena
di sana mereka sedang mengkondisikan adik-adik. Ruang TPA yang luasnya tidak
sampai 3x3m itu bocor. Hujan deras membobol seng yang menjadi atapnya.
Sambil melirik jam, hati saya kisruh. Sudah pukul 16.00
pasti adik-adik sudah menunggu lama. Sebagian teman kami masih belanja beberapa
bingkisan yang belum lengkap di pasar Tanah Abang. Mereka terjebak macet luar
biasa karena hujan deras. Tuhan, masihkah hujan ini bermanfaat?
Kaki-kaki kecil kedua gadis itu kembali terdengar berlarian di gemericik air. Kali ini mereka
mendorong sebuah gerobak kayu yang di atasnya duduk seorang anak laki-laki.
Dan... masya Allah.. bocah kecil berusia kira-kira 3 tahunan itu duduk di atas
gerobak dengan tubuh telanjang di bawah guyuran hujan. Senyum riangnya biru,
bergetar kedinginan. Kedua gadis kecil itu mendorongnya berkeliling di depan
rumah-rumah yang berjejer. Sesekali si gadis iseng mendorong gerobak menembus
semburan air yang memancur dari tangki. Brrrrr... tubuh bocah telanjang itu
gemetar. Rasanya saya dapat merasakan gemeletuk giginya. Temanku Mila sama
terpakunya dengan saya. Beda dengan mereka bertiga yang tertawa riang sambil
terus berpesta dengan hujan.
Keceriaan ini,
Kebahagiaan ini,
Tawa riangnya yang tercipta dari butiran air
langit ini,
Inikah yang didengungkan dalam baris do'a
menyambut hujan,
"ya Allah jadikan hujan ini membawa manfaat,"
Inikah manfaat yang Kau titipkan pada hujan?
Kebahagiaan yang tak terkungkung oleh
derasnya hujan ...
Di bawah langitNya yang sama Allah pertunjukkan kebenaran
ayatNya. Kebahagiaan menyambut hujan hanyalah milik hamba pilihanNya. Maukah
kita memiliki kebahagiaan yang tak bermusim ini? Milikilah sifat-sifat agung.
Kabar baiknya; bahwa ternyata kita dapat mengusahakannya!
---
Nati Sajidah
Sekum KOMPAQ
Bandung, 16
September 2010, pk. 00.19 WIB







Masya Allah.. pengemasan cerita dengan tekhnik yang baik Dan membuat pembaca terhanyut kedalam cerita. Terima kasih atas pengulasan kata ibad, memberikan pengetahuan yang lebih mendalam akan tafsir ayat 48 surat Ar-rum kepada khalayak.
BalasHapus